SURYACO.ID, BANGKALAN - Momen silaturahmi sekaligus saling kenal bersama wartawan dikemas Kapolres Bangkalan, AKBP Wiwit Ari Wibisono melalui gelaran Piramida Prima 'Ngopi Bareng Media' di Lantai II Mako II Polres Bangkalan, Jumat (5/8/2022). Mantan Kapolres Pacitan itu belum genap sebulan bertugas di Bangkalan.
Bangkalan - Nahdliyin mahfum, Nahdlatul Ulama NU berdiri pada 1926 atau nyaris seabad lalu. Pendirinya adalah Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari, ulama besar yang dalam lagi luas cakrawala pengetahuannya. Namun, tak banyak yang mengetahui, ada fragmen-fragmen penting sebelum NU benar-benar dideklarasikan di di Kota Surabaya, pada 1926. Salah satunya, peran Syaikhona Kholil Bangkalan, gurunya para kiai Indonesia, terutama di Jawa. KH Hasyim Asy'ari sendiri adalah santri Mbah Kholil Bangkalan, nama lain yang juga populer, pendiri Pondok Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura. Sebelum pendirian NU, Mbah Kholil memberikan tongkat dan tasbih untuk KH Hasyim Asyari. Ini adalah bentuk restu sekaligus dukungan guru kepada muridnya yang akan mendirikan jam'iyah. Karomah Misterius Mbah Mangli Magelang, Ceramah di Berbagi Tempat dalam Satu Waktu Kisah Imam Masjid Sheikh Zayed Solo KH Abdul Rozaq Shofawi Saksikan Karomah Mbah Mangli Biografi dan Kisah Karomah Habib Umar bin Hoed Al-Attas Peristiwa itu terjadi setelah dua tahun lamanya, pendiri Pesantren Tebuireng di Jombang itu, mencari "isyarat langit" yang tak kunjung datang lewat salat istikharah. Penyerahan tongkat dan tasbih yang diperkirakan terjadi pada 1924 dan dianggap sebagai isyarat langit yang selama ini dicari. Mengutip kanal Regional As'ad, seorang santri, diutus Kiai Kholil mengantarkan tongkat dan tasbih itu ke Tebuireng. Kelak murid ini dikenal sebagai KH As'ad Syamsul Arifin, pendiri pesantren paling berpengaruh di Situbondo, Salafiyah Syafi'iyah. Hikayat tentang tongkat dan tasbih itu dituturkan Kiai As'ad dalam sebuah ceramah yang direkam dalam pita kaset. Isinya kemudian ditranskip dan dimuat dalam buku berjudul 'Syaikhona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama'. Buku yang terbit pada 2012 ini ditulis mantan Bupati Bangkalan RKH, Fuad Amin Imron, yang wafat pada 16 September 2019. Terlepas dari semua kontroversi dan skandal dalam 71 hidupnya, buku ini terasa istimewa karena penulis adalah cicit Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama yang disegani itu. Selama nyantri ke Mbah Kholil, As'ad muda hanya ditugasi mencari kayu bakar. Namun, pada 1924 itu, ia dipercaya mengemban amanah besar, mengantarkan tongkat dan tasbih itu, dari Bangkalan menuju Tebuireng. Maka Kiai As'ad adalah saksi sekaligus pelaku sejarah berdirinya NU, sebuah organisaai keagamaan dengan jumlah pengikut terbanyak di Indonesia. Kiai As'ad memulai kisahnya enam tahun sebelum NU diresmikan di di rumah KH Wahab Hasbullah, Kota Surabaya, pada 31 Januari 1926. Saksikan Video Pilihan IniDetik-Detik Wanita Nekat Terobos Paspampres dan Cegat Mobil Demi Salami JokowiMenangkal WahabiPendiri NU sekaligus Rais Akbar, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Foto Istimewa via NU OnlinePada 1920, kata Kiai As'ad, sebanyak 67 ulama Nusantara berkumpul di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Selama sebulan, mereka bermukim di rumah Kiai Muntaha Desa Jengkebuen, guna membahas kemunculan aliran baru yang gencar menyiarkan pemurnian ajaran Islam dengan hanya berpedoman pada Al-Qur'an dan Hadis. Para ulama itu resah oleh aliran baru yang kemudian hari dinamai Wahabi karena mengharamkan tahlil dan ziarah kubur, sebuah ajaran yang sudah lama dipraktekkan oleh pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dibawa Wali Songo ke tanah Jawa. Pertemuan gawat di tahun 1920 itu tak menemukan solusi bagaimana meredam Wahabi yang gerakannya kian gencar dan massif. Mereka butuh fatwa KH Muhammad Kholil, seorang ulama di Bangkalan yang masyhur karena kealiman dan kewaliannya juga mertua Kiai Muntaha. Belum sempat Kiai Muntaha menemui sang mertua. Kiai Kholil mengutus Nasib, seorang muridnya ke Jengkebuen. Nasib diminta membaca surat As-Shaaf ayat 8 dan 9 kepada para ulama di rumah menantunya itu. Para Ulama itu puas dan lalu pulang, karena ayat itu rupanya adalah fatwa yang mereka tunggu atas munculnya gerakan yang dicetuskan ulama Arab Saudi, Ibnu Abdul Wahhab yang pengaruhnya begitu kuat setelah Kota Mekkah ditaklukkan seorang Kepala Suku bernama Al-Saud yang kemudian mendirikan kerajaan dan masih berkuasa sampai kini. "Itulah karomah Kiai Kholil. Sudah tahu jawaban atas sebuah pertanyaan yang belum disampaikan," kata Kiai As'ad. Antara tahun 1921 hingga 1922, sesudah pertemuan ulama di Bangkalan dua tahun sebelumnya, sebanyak 46 ulama Pulau Jawa dan Madura bertemu di Kawatan Surabaya, rumah Kiai Mas Alwi. Kali itu pokok bahasan lebih kongkret yaitu pembentukan sebuah organisasi untuk menangkal kemunculan kelompok Islam yang tidak senang pada ajaran ahlussunnah. Di antaranya kiai yang hadir antara KH Hasyim Asyari, KH Hasan Genggong, KH Samsul Arifin, KH Dahlan Nganjuk, dan KH Asnawi Kudus dan Kiai Taher Bungkuk juga kiai-kiai Jombang. Namun, pertemuan itu tak kunjung seiya-sekata. Sebagian sepakat membentuk organisasi baru, Sebagian lagi mengusulkan agar memperkuat organisasi yang sudah ada seperti Sarekat Islam atau Masyumi. Karena tak juga menemukan jalan keluar, kata As'ad, seorang kiai akhirnya menghadap Kiai Kholil Bangkalan. Dia kemudian bercerita pernah membaca tulisan Sunan Ampel sewaktu nyantri di Kota Madinah. Isinya menceritakan Sunan Ampel pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. "Dalam mimpi itu Nabi Muhammad berpesan agar ajaran ahlus sunnah dibawa ke Indonesia karena orang-orang Arab sendiri tidak mampu melaksanakannya," ujar As' Tongkat dan Berdirinya NUPrabowo Subianto berdoa di makam Syaikhona Kholil Bangkalan saat maju sebagaj Capres pada Pemilu 2019 lalu. Di Cirebon, pada 1921 itu, kongres Islam pertama digelar. HOS Cokroaminoto, tokoh Sarekat Islam, memimpin kongres. Namun tujuan kongres untuk menyatukan visi dan misi umat Islam dan mengurangi ketegangan antar kelompok tak tercapai. Al-Irsyad yang diwakili Ahmat Soorkatti dan ulama tradisional yang diwakili KH Wahab Hasbullah dan KH Asnawi Kudus berbeda pandangan soal mazhab. Di tengah berbagai upaya menyatukam visi umat Islam itu dan tarik ulur kiai-kiai tradisional membentuk organisasi baru. Pada sebuah pagi di awal 1924, Kiai Kholil tiba-tiba memanggil As'ad. Dia diminta sang guru mengantarkan sebuah tongkat pada KH Hasyim Asyari di Tebuireng. Pada akhir tahun itu, As'ad dipanggil lagi, kali ini mengantarkan tasbih. Menurut Kiai As'ad, ketika menerima dua benda itu, Kiai Hasyim memberi reaksi yang berbeda. Saat menerima tongkat disertai potongan ayat surat Thaha ayat 17-23, Kiai Hasyim langsung berujar bahwa dengan tongkat itu hatinya makin mantap untuk mendirikan organisasi bernama Jam'iyatul Ulama dan tongkat itu disebut sebagai tongkatnya Nabi Musa. Sementara menerima tasbih yang disertai bacaan Ya Jabbar, Ya Qohhar, dua dari 99 Asmaul Husna, Kiai Hasyim Asyari berujar bahwa yang melawan ulama akan hancur. "Saat disuruh Kiai Kholil dua kali ketemu Kiai Hasyim, saya dikasih ongkos dan tidak saya belanjakan, sampai sekarang masih ada," ujar As'ad. Setahun kemudian, Kiai Kholil Bangkalan meninggal dunia tahun 1925, pada hari ke 29 bulan Ramadan. Setahun berselang, tepatnya pada 31 Januari 1926, NU resmi didirikan di rumah KH Wahab Hasbullah di Kampung Kertopaten, Surabaya. Tanggal ini adalah tanggal dibentuknya 'komite hijaz'. Sebuah komite yang akan dikirim ke Mesir untuk mengikuti Muktamar Islam Dunia pertama, untuk memperjuangkan agar penguasa Arab Saudi tetap memperbolehkan ajaran Ahlussunah wal Jamaah diajarkan di Mekkah. Atas usul Kiai Mas Alawi, nama Komite Hijaz diganti menjadi Nahdlatul Oelama', nama yang kemudian disepakati resmi menjadi nama organisasi untuk didaftarkan pada Gubernur Hindia Belanda. Salah satu penyusun anggaran dasar NU adalah KH Dahlan Nganjuk. Dan Lambang NU dibuat oleh KH Ridwan Abdullah Surabaya. "Sudah jelas, ini kesaksian saya, karena saya tahu awal pembentukan NU yang saya cintai," ujar Kiai As'ad dalam ceramah itu. Tim Rembulan* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
MuhammadKholil bin Abdul Lathif Bangkalan-Madura. Hasyim Asy'ari muda langsung di uji oleh sang guru. Hasyim Asy'ari muda disuruh naik ke atas pohon bambu, sementara Kyai Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik sampai ke pucuk pohon bambu tersebut. Kyai Hasyim terus naik sesuai perintah gurunya itu. Kiai Muhammad Kholil Bangkalan adalah satu ulama kharismatik di wilayah Jawa Timur, dia adalah guru dari para ulama besar seperti Kiai Mashum Lasem, Kiai Hasyim Asy’ari Tebuireng, Kiai Wahab Hasbullah Tambakberas dan Kiai Bahar Sidogiri. Kiai Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur dengan nama Muhammad Kholil. Dia merupakan putera dari KH Abdul Lathif . Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Muhammad Kholil belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan dia pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian pindah ke Ponpes Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini dia belajar pula kepada Kiai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri. Lalu M Kholil menimba ilmu di Mekkah selama belasan tahun. Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Muhammad Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Karena Kiai Muhammad Kholil cukup lama belajar di beberapa pondok-pesantren di Jawa dan Mekkah, maka sewaktu pulang, dia terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqih, thariqat ilmu-ilmu mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, KH Muhammad Kholil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya. Sesuai dengan keadaan dia sewaktu pulang dari Mekkah telah berumur lanjut, tentunya Kiai Kholil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasuhnya untuk berjuang melawan penjajah. Kiai Muhammad Kholil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda karena dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. Ketika Belanda mengetahuinya, Kiai Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Kholil, malah membuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa mereka mengerti. Seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Kiai Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Kiai Kholil untuk dibebaskan satu karomah sang kiai yang diyakini para santrinya hingga kini yaitu saat bertempur melawan Belanda. Kiai Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar. Saat konsentrasi lawan buyar itulah, para pejuang gantian menghantam pihak kompeni. Kesaktian lain dari Kiai Kholil, adalah kemampuannya menjadi dua. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyup sehingga para santri heran. Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan ke Kiai Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Kiai nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Kiai Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan lainnya saat Kiai Muntaha, mantu Kiai Kholil, membangun masjid di pesantrennya, dan pembangunan masjid tersebut hampir rampung. Suatu hari, masjid yang hampir rampung itu dilihat oleh Kiai Kholil, menurut pandangan Kiai Kholil, ternyata masjid itu terdapat kesalahan dalam posisi kiblat.“Muntaha, arah kiblat masjidmu ini masih belum tepat, ubahlah,” ucap Kiai Kholil mengingatkan mantunya yang alim itu. Sebagai seorang alim, Kiai Muntaha tidak percaya begitu saja. Beberapa argumen diajukan kepada Kiai Kholil untuk memperkuat pendiriannya yang selama ini sudah dianggapnya benar, melihat mantunya tidak ada-ada tanda-tanda menerima nasehatnya, Kiai Kholil tersenyum sambil berjalan ke arah Kiai Muntaha mengikuti di belakangnya. Sesampainya di ruang pengimaman, Kiai Kholil mengambil kayu kecil kemudian melubangi dinding tembok arah kiblat.“Muntaha, coba kau lihat lubang ini, bagaimana posisi arah kiblatmu,” kata Kiai Kholil sambil memperhatikan mantunya bergegas mendekatkan matanya ke lubang itu, betapa kagetnya Kiai Muntaha setelah melihat dinding itu. Tak diduganya, lubang yang kecil itu ternyata Kakbah yang berada di Makkah dapat dilihat dengan jelas sadarlah Kiai Muntaha, ternyata arah kiblat masjid yang diyakininya benar selama ini terdapat kesalahan. Arah kiblat masjid yang dibangunnya, ternyata terlalu miring ke kanan. Kiai Kholil benar, sejak saat itu, Kiai Muntaha mau mengubah arah kiblat masjidnya sesuai dengan arah yang dilihat dalam lubang suatu hari, Kiai Kholil mendapat undangan di pelosok Bangkalan . Hari jadi yang ditentukan pun tiba. Para undangan yang berasal dari berbagai daerah berdatangan. Semua tamu ditempatkan di ruang tamu yang cukup para tamu sudah datang semua, acara nampaknya belum ada tanda-tanda dimulai. Menunggu acara belum dimulai salah seorang tamu tidak sabar lagi. Lalu Fulan yang dikenal sebagai jagoan di daerah itu, berdiri lalu berkata, “Siapa sih yang ditunggu-tunggu kok belum dimulai," kata si jagoan sambil dengan itu datang sebuah dokar, siapa lagi kalau bukan Kiai Kholil yang ditunggu-tunggu.“Assalamu’alaikum”, ucap Kiai Kholil sambil menginjakkan kakinya ke lantai tangga paling bawah rumah besar dengan injakan kaki Kiai Kholil, gemparlah semua undangan yang hadir. Serta-merta rumah menjadi undangan tercekam tidak berani menatap Kiai Kholil. Si fulan yang terkenal jagoan itu ketakutan, nyalinya menjadi kecil melihat kejadian yang selama hidup baru dialami saat beberapa saat kejadian itu berlangsung kiai mengangkat kakinya. Seketika itu, rumah yang miring menjadi tegak seperti sedia kala. Maka berhamburanlah para undangan yang menyambut dan menyalami Kiai - sufiroad- ferielhibrisms
KetikaKholil muda menyantri pada Kiai Noer di pesantren Langitan Tuban. Kholil seperti biasanya ikut jamaah sholat yang memang keharusan para santri. Di tengah kekhusukan jamaah sholat, tiba-tiba kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Noer. Dengan kening berkerut, kiai bertanya:
Kanhaiya Ki Nayi PareshaaniS1 E1515 Sep 2017ComedyHindiStar BharatKanhiya is worried about reduced sales at his shop and tells the same to Kunti. How will Kunti resolve the problem now? Watch the full episode, online only on Selamasebulan penuh Kiai Anwar ziarah di makam Mbah Kholil Bangkalan. Di makam itu dia mempelajari kitab alfiyah. Ternyata saat memberi pengajian, Kyai Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu
- Sudah jadi pandangan umum jika di kalangan Nahdlatul UlamaNU, Hasyim As’ari dipanggil dengan gelar “Hadratus Syaikh” Maha Guru. Sebuah gelar istimewa yang sebenarnya bukanlah merupakan gelar sembarangan. Gelar ini tidak sama dengan gelar “kiai” yang bisa diperoleh karena kontribusi sosial di masyarakat. Gelar “Hadratus Syaikh” pada Kiai Hasyim didapat seperti halnya gelar akademik. Dari keterangan Ahmad Muwafiq, yang biasa disapa dengan Gus Muwafiq, pada haul Gus Dur ke-4 pada 4 Oktober 2015 di Pondok Pesantren, Jombang, gelar ini disandang Kiai Hasyim saat lulus dari pendidikan ilmu hadis di Mekah. Bahkan Kiai Hasyim merupakan satu-satunya ulama dari Asia pada era itu yang menyandang gelar “Hadratus Syaikh”. Saat itu, gelar “Al-Faqih” dipersembahkan untuk orang yang hapal hadis soheh benar, gelar “Assyaikh” hapal semua hadis dari riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, sedangkan gelar “Hadratus Syaikh” adalah gelar untuk penghapal “Kutubus Sittah” Hapal hadis dari Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah. Hal itulah yang membuat Kiai Muhammad Kholil Bangkalan, kiai legendaris yang merupakan guru dari banyak ulama, seperti Kiai Ma’shum Lasem ayah dari Kiai Ali Maksum Krapyak, Kiai Wahab Chasbullah Jombang, Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kiai Bisri Syansuri Jombang, Kiai Munawwir Krapyak, dan termasuk juga Kiai Hasyim Asy’ari, mendatangi mantan muridnya ke Tebuireng, Jombang. Tentu saja kunjungan ini mengejutkan Kiai Hasyim Asy’ari. Dalam tradisi pesantren, tidak ada istilah “mantan santri”. Sampai akhir hayat, Kiai Kholil adalah guru bagi Kiai Hasyim. Untuk itulah segala hal dipersiapkan di Pondok Pesantren Tebuireng untuk menyambut tamu istimewa ini. Masalahnya, Kiai Kholil tidak sekadar berkunjung, melainkan ingin belajar kepada Kiai Hasyim yang memang sudah dikenal reputasinya sebagai ahli hadis—tidak hanya di Nusantara—melainkan juga di Asia. Begitu Kiai Kholil datang ke Tebuireng, beberapa santri segera diperintah Kiai Hasyim untuk mempersiapkan kamar khusus untuk Kiai Kholil. Setelah semua persiapan beres, Kiai Hasyim dengan takzim segera mendekat ke Kiai Kholil. “Kiai, mohon istirahatnya di kamar yang sudah dipersiapkan. Tidak usah tidur seperti santri-santri yang lain. Cuciannya juga nanti biar dicucikan, jangan mencuci sendiri,” kata Kiai Hasyim. Dengan tersenyum Kiai Kholil membalas, “Hasyim, di sini saya datang sebagai santri sebagaimana santri yang lain. Jadi janganlah kamu istimewakan dan pisahkan dengan santri-santri yang lain. Di Pesantren Bangkalan, benar memang aku ini kiai kamu, kamu santriku, tapi di sini sebaliknya, kamu sekarang kiaiku dan aku ini santrimu.” “Tapi, Kiai…” kata Kiai Hasyim kebingungan. Membayangkan Kiai Kholil yang merupakan gurunya sendiri akan tidur bersama para santrinya, tentu saja Kiai Hasyim tidak tega. Meskipun Kiai Kholil sudah mengeluarkan perintah jangan menganggapnya sebagai guru di Pesantren Tebuireng, tapi bagi Kiai Hasyim, mau di manapun, Kiai Kholil adalah kiainya tidak peduli tempat atau tidak peduli status pada saat keduanya bertemu kali ini. Setelah berpikir keras, akhirnya Kiai Hasyim punya ide. Ia datangi kembali Kiai Kholil di kamarnya. “Kiai Kholil,” kali ini Kiai Hasyim mengeluarkan suara sedikit tegas dan keras. “Apakah benar saya dianggap Kiai sebagai guru?” tanya Kiai Hasyim. Kiai Kholil awalnya bingung, “Iya memang benar. Kamu adalah guru saya,” balas Kiai Kholil. “Kalau begitu saya perintahkan Kiai Kholil untuk meninggalkan kamar ini dan segera pindah ke kamar yang sudah dipersiapkan. Berikut juga dengan makanan Kiai Kholil akan diantarkan ke kamar jadi Kiai Kholil tidak perlu ikut antre bersama santri yang lain, cucian juga akan dicucikan, tidak perlu antri kamar mandi. Ini bukan permintaan seorang santri kepada kiainya, tapi perintah seorang kiai kepada santrinya,” kata Kiai Hasyim. Mendengar itu Kiai Kholil terkejut, lalu berdiri dan menuruti perintah “guru” hari sepanjang Ramadan, redaksi menurunkan naskah yang berisi kisah, dongeng, cerita, atau anekdot yang, sebagian beredar dari mulut ke mulut dan sebagiannya lagi termuat dalam buku/kitab-kitab, dituturkan ulang oleh Syafawi Ahmad Qadzafi. Melalui naskah-naskah seperti ini, Tirto hendak mengetengahkan kebudayaan Islam di Indonesia sebagai khazanah yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Naskah-naskah ini tayang di bawah nama rubrik "Daffy al-Jugjawy", julukan yang kami sematkan kepada penulisnya. - Sosial Budaya Reporter Ahmad KhadafiPenulis Ahmad KhadafiEditor Zen RS
Hinggasuatu ketika, terdapat isyarat dari gurunya yakni Kyai Kholil dari Bangkalan untuk mendirikan sebuah ormas yang mampu menjadi wadah bagi aspirasi umat Muslim di tanah air. Organisasi tersebut merupakan cikal bakal berdirinya NU (Nahdhatul Ulama). kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat. Entah apa isi surat itu, yang jelas
Kompas TV cerita ramadan risalah Selasa, 12 April 2022 1316 WIB Syaikhona Cholil Bangkalan ulama dan Mahaguru dari pesantren dan ulama-ulama NU Sumber Kompas JAKARTA, – Sosok ini oleh para ulama di Jawa, khususnya kiai-kiai Nadhlatul Ulama NU, disebut Syaichona. Syaichona sendiri bermakna Mahaguru, orang yang dihormati sebagai gurunya para ulama. Panggilan ini tidak main-main lantaran sosok bernama lengkap Al-'Aalim Al-'Allaamah Asy-Syekh Al-Hajji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi'I atau dengan nama kecil Muhammad Cholil, begitu dihormati. Keluasan ilmu dan pengaruhnya tidak hanya dihormati oleh Nahdliyin, tapi juga oleh ulama-ulama di seantero Indonesia karena luasnya ilmu yang ia miliki. Dikutip dari buku KH. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1835-1925 Garasi, 2010 yang ditulis Muhammad Rifa’I dikisahkan, selain guru dari para Ulama Nusantara, ia juga dianggap guru dari Bung Karno. Berdasarkan penuturan buku tersebut, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Kiai Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunnya. Hal ini bisa bermakna, Bung Karno menganggapnya sebagai guru dan restu untuk menjadi pemimpin. Baca Juga Syekh Yusuf Al-Makassari, Ulama, Sufi dan Pahlawan RI Peletak Dasar Islam di Afrika Selatan Masa Kecil, jejak Pesantren dan Murid-Muridnya Syekh Kholil Bangkalan Lahir lahir Bangkalan, Madura, 7 Januari 1820 dari pasangan KH Abdul Latif dan Syarifah Khadijah. Dari pasangan ulama itu pula, Cholil kecil mendapatkan ajaran agamanya. Ia punya silsilah dengan dengan ulama-ulama di tanah Jawa dan memiliki pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Sedari kecil, ia belajar dari para kiai dan pesantren di Pula Jawa. Ia belajar dari Kiai Muhammad Nur, kiai kharimastik asal Pesantren Langitan, Tuban. Lantas KH Kholil Bangkalan pindah ke beberapa pesantren hingga di usia 24 tahun, ia belajar ke Mekkah-Medinah ke beberapa ulama seperti Syekh Nawawi Al-bantani, Syaikh Mustafa bin Ahmad Al-Afifi Al-Makki di Mekkah dan sebagainya. Dikutip dari buku Jejak Pemikiran Pendidikan Ulama Nusantara Turots, 2021 dikisahkan, setelah pulang dari Makkah, ia tidak lantas mendirikan pesantren, tapi bekerja di kadipaten Bangkalan pada malam hari. Ketika berjaga itu, waktunya dipakai untuk membaca hingga akhirnya terdengar oleh Adipati Bangkalan waktu itu, Ludra Putih, yang kemudian mengangkatnya sebagai menantu. Halaman Sumber Kompas TV BERITA LAINNYA KISAH ISTIGFAR MBAH KHOLIL BANGKALAN" Suatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai bertanya kepada tamu yang Surabaya, NU Online Jatim Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dikenal sebagai tokoh karismatik dan keramat yang mempunyai peran besar terhadap kehidupan umat manusia. Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU, KH Afifudin Dimyathi menjelaskan hal ini yang terbagi dalam tiga bagian, yaitu dalam bidang agama, pesantren, dan negara. Pertama, dalam bidang agama, Syaikh Kholil sebagai rujukan ulama Indonesia bahkan dunia serta menjadi penghubung ulama Indonesia dan Haramain. Disebutkan bahwa Syaikh Kholil berhasil melahirkan ulama sekaligus pemimpin besar dengan beragam keahlian. Dilansir laman NU Online, di antara muridnya ialah Kiai M Hasyim Asy’ari yang terkenal di bidang hadits, Kiai Wahab Chasbullah dalam pergerakan politik dan negara, Kiai Bisri Syansuri di bidang fiqih, dan Kiai Romli di bidang tasawuf. "Inilah kelebihan Syaikh Kholil dalam keilmuan agama yang didistribusikan kepada para santrinya," kata Gus Awis, sapaan akrabnya, saat menjadi pemateri dalam seminar nasional bertajuk Sejarah Turots Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan’, Senin 07/06/2021. Gus Awis menyebutkan, Syaikh Kholil sosok yang sangat peduli terhadap penyebaran ilmu keagamaan. Hal ini ditunjukkan dari tulisan Syaikh Kholil di berbagai bidang seperti tauhid, fiqih, nahwu-shorof, tajwid, tafsir, dan akhlak. Kedua, dalam dunia pesantren. Gus Awis menyatakan jaringan pesantren di Nusantara sebagian besar intisab ikrar kepada pesantren Syaikhona Kholil. Tidak hanya itu, berkat Syaikh Kholil hingga kini pesantren mampu bertahan di segala zaman meskipun menghadapi berbagai tantangan. Gus Awis juga mengungkapkan kontribusi Syaikh Kholil dalam mengembangkan kurikulum pesantren. "Sebelum tahun 1888 masehi kurikulum pesantren tidak ada yang mencolok. Namun, setelah ada karya Syaikh Nawawi, Syaikh Khotib Syambas dan Syaikh Mahfud Termas yang dibawa dan diajarkan Syaikh Kholil ke Indonesia menjadi desain baru pada kurikulum pesantren," jelasnya. Dalam merekatkan pesantren dan tasawuf, Syaikh Kholil intisab ikrar kepada Syekh Khotib Syambas melalui baiat Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandi dan bisa diterima di berbagai pesantren. "Ini menandakan bahwa tasawuf menjadi amaliah yang bisa diterima," ujarnya. Ketiga, peranan Syaikh Kholil dalam kehidupan negara banyak melahirkan santri yang menjadi pejuang bahkan ditetapkan menjadi pahlawan. "Secara langsung kita tidak bisa melihat perjuangan Syaikh Kholil dalam kemerdekaan tahun 1945 karena ia wafat tahun 1925. Tetapi, kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan sangat jelas dan nampak," ucap Gus Awis. Bukti otentiknya adalah tulisan tangan yang terekam dalam berbagai macam manuskrip Hubbul Wathan Minal Iman yang menunjukkan benang merah perjuangan Syaikh Nawawi Al Bantani saat mengecam penjajahan dan kolonialisme Indonesia kemudian dilanjutkan oleh Syaikhona Kholil. Syaikhona juga sangat memberi pengaruh kepada para muridnya termasuk ketika Soekarno dan Hos Tjokroaminoto datang ke kediaman Syaikh Kholil. Gus Awis mengisahkan, saat itu di hadapan Soekarno, Syaikh Kholil berkata bahwa Soekarno akan menjadi tokoh besar. "Ini menjadi mata rantai persambungan antara usaha Syaikh Kholil dalam mewujudkan kemerdekaan di negeri ini," pungkasnya. Almarhumbagi Ra Fahad adalah sosok kyai yang sangat ramah dan murah hati. "Di mana saja, setiap bertemu siapa saja pasti menyapa. Kita kehilangan sosok yang selalu mendoakan Bangkalan melalui Dzikir dan Shalawatnya. Beliau lah penggagas Bangkalan sebagai Kota Dzikir dan Shalawat," ungkap Ra Fahad kepada Surya, Sabtu (14/5/2022). Lembaga pendidikan pondok pesantren tidak hanya tempat belajar untuk memperdalam berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga menempa moral dan akhlak para santri murid. Dua hal penting tersebut sebagai bekal seseorang agar tetap mengedepankan perilaku baik kepada sesama meskipun berilmu tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Pola pembentukan akhlak itu tidak terlepas dari teladan mulia yang diberikan oleh guru kiai sesuai ajaran Nabi Muhammad sehingga bersemayam pada diri para santri. Akhlak baik yang diteladankan oleh para guru terdahulu nampak pada diri KH Muhammad Cholil Bangkalan dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Dua ulama penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. KH Hasyim Asy’ari yang tidak lain adalah murid Kiai Cholil memiliki keilmuan tinggi di bidang hadits sehingga suatu saat Kiai Cholil tidak segan untuk belajar kepada muridnya itu. Sebuah riwayat mengungkapkan bahwa ketika mengajar ngaji kitab hadits, KH Hasyim Asy’ari belakangan baru tahu bahwa di tengah barisan santrinya terdapat KH Cholil Bangkalan sedang ikut mengaji. Ya, kepakarannya di bidang hadits diakui oleh gurunya itu. Bahkan Mbah Cholil tidak segan-segan berguru tentang ilmu hadits kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Setelah pengajian kitab hadits tersebut selesai, seluruh santri beranjak, begitu juga dengan Mbah Cholil Bangkalan. Pemandangan bersahaja dan tawadhu' terlihat, yakni ketika Mbah Cholil hendak meraih sandalnya. Namun, Kiai Hasyim Asy’ari berhasil mendahului untuk meraih sandal gurunya itu. Kemudian ia memakaikannya pada kedua telapak kaki Mbah Cholil dengan penuh rasa hormat. Riwayat lain yang dijelaskan KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq 2015 mengungkapkan, Kiai Cholil Bangkalan, kiai legendaris yang merupakan guru dari banyak ulama, seperti Kiai Ma’shum Lasem ayah dari Kiai Ali Maksum Krapyak, Kiai Wahab Chasbullah Jombang, Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kiai Bisri Syansuri Jombang, Kiai Munawwir Krapyak, dan termasuk juga Kiai Hasyim Asy’ari, mendatangi mantan muridnya ke Tebuireng, Jombang. Kunjungan ini mengejutkan Kiai Hasyim Asy’ari. Dalam tradisi pesantren, tidak ada istilah 'mantan santri'. Sampai akhir hayat, Kiai Cholil adalah guru bagi Kiai Hasyim. Untuk itulah segala hal dipersiapkan di Pondok Pesantren Tebuireng untuk menyambut tamu istimewa ini. Masalahnya, Kiai Kholil tidak sekadar berkunjung, melainkan ingin belajar kepada Kiai Hasyim yang memang sudah dikenal reputasinya sebagai ahli hadis—tidak hanya di Nusantara—melainkan juga di Asia. Begitu Kiai Cholil datang ke Tebuireng, beberapa santri segera diperintah Kiai Hasyim Asy'ari untuk mempersiapkan kamar khusus untuk Kiai Cholil. Namun, Kiai Hasyim tidak menyangka bahwa Kiai Cholil ingin menjadi santrinya. Kiai Cholil menegaskan bahwa kedatangannya ke Pesantren Tebuireng ingin menjadi santri sebagaimana santri yang lain. Kiai Cholil tidak ingin diistimewakan. Ia ingin bersama dengan santri-santri yang lain. “Di Pesantren Bangkalan, benar memang aku ini kiai kamu, kamu santriku, tapi di sini sebaliknya, kamu sekarang kiaiku dan aku ini santrimu,” tutur Kiai Cholil seperti dikisahkan Gus Muwafiq. Membayangkan Kiai Cholil yang merupakan gurunya sendiri akan tidur bersama para santrinya, tentu saja Kiai Hasyim tidak tega. Meskipun Kiai Cholil sudah mengeluarkan perintah jangan menganggapnya sebagai guru di Pesantren Tebuireng, tapi bagi Kiai Hasyim, mau di mana pun, Kiai Cholil adalah kiainya tidak peduli tempat atau tidak peduli status pada saat keduanya bertemu kali ini. Setelah berpikir keras, akhirnya Kiai Hasyim punya ide. Ia datangi kembali Kiai Cholil di kamarnya. Kiai Hasyim memahami prinsip kepatuhan seorang santri sehingga jika Kiai Cholil masih menganggap dirinya santri Kiai Hasyim ketika berada di Pesantren Tebuireng, maka segala perintah Kiai Hasyim harus dilaksanakannya. Akhirnya, Kiai Cholil mematuhi santri yang dianggap gurunya itu untuk pindah ke kamar khusus yang sudah disediakan, tidak bercampur lagi dengan santri-santri lain. Begitu juga dengan makanan dan cucian. Makanan Kiai Cholil akan diantarkan ke kamar, jadi Kiai Cholil tidak perlu ikut antre bersama santri yang lain. Cucian juga akan dicucikan, tidak perlu antri di kamar mandi. Langkah tersebut hanya cara Kiai Hasyim untuk memuliakan gurunya yang masih keukeuh ingin jadi santri Kiai Hasyim. Dengan kata lain, hal itu bukan permintaan seorang santri kepada kiainya, tapi perintah seorang kiai kepada santrinya. Mendengar penjelasan Kiai Hasyim itu, itu Kiai Cholil terkejut, lalu berdiri dan menuruti perintah guru’-nya. Tentang sosok Kiai Hasyim Asy’ari, gelar Hadhratussyekh pada dirinya menggambarkan bahwa kakek Gus Dur tersebut merupakan mahaguru, mahakiai. Bahkan, Muhammad Asad Syihab 1994 menyebut Kiai Hasyim dengan sebutan al-Allamah. Dalam tradisi Timur Tengah, istilah tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai pangkat keulamaan dan keilmuan yang tinggi. Menurut catatan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren 2013 202 yang didapatkannya dari para ulama alumnus Tebuireng, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari—seperti kebanyakan ulama di Indonesia—termasuk golongan fuqaha. Artinya orang yang sangat dalam penguasaannya tentang ilmu-ilmu keislaman. Di samping itu, masih menurut catatan Kiai Saifuddin Zuhri, ia juga terkenal sebagai ulama ahli hadits. Sudah menjadi wiridan kebiasaaan rutin tiap bulan Ramadhan, Hadhratussyekh membaca kitab hadits al-Bukhari, kitab kuning berisi himpunan hadits Nabi Muhammad sebanyak hadits. Banyak ulama yang datang dari berbagai pelosok tanah air untuk mondok di Tebuireng selama bulan Ramadhan untuk menyimak bacaan hadits KH Hasyim Asy’ari. Kepakarannya terlihat bukan hanya ketika ia membaca kitab hadits dengan cermat dan cepat, tetapi juga ketika Hadhratussyekh mengontekstualisasikan dengan dinamika kehidupan dan perubahan zaman. Zuhairi Misrawi dalam Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari Moderasi, Keumatan, Kebangsaan 2010 merupakan salah satu pemilik sanad Kitab Hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Ini menunjukkan bahwa KH Hasyim Asy’ari telah hafal ribuan hadits yang diperoleh dari guru-gurunya dengan sanad keilmuan yang jelas. Geneologi atau sanad sebuah kitab tidak bisa diijazahkan kepada seseorang tidak menguasai dan memahami kitab tersebut. Perihal Kiai Hasyim Asy’ari yang telah hafal ribuan hadits ini ditegaskan oleh Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh 2019. Bahkan menurut Kiai Ubaidullah, kealiman Kiai Hasyim Asy’ari mendekati tingakatan seorang mujtahid. Mujtahid dapat dikatakan ialah orang yang -dengan ilmunya yang tinggi dan lengkap- telah mampu menggali dan menyimpulkan hukum-hukum Islam dari sumber-sumbernya yang asli seperti Al-Qur'an dan Hadits. Editor Abdullah Alawi kyaikholil bangkalan Asma Sunge Raja Cirebon. January 1, 2016 January 1, 2016 ASMAK, Kholil Bangkalan MaduraAlfatehah 1x - Illa khussuson ruhi Kyai Raden Syamsul 'Arifin Situbondo Jatim Alfatehah 1x - Illa khussuson ruhi Kyai Moh.Nur Sumenep Madura Alfatehah 1x
– Sejarah profil perkembangan Pondok Pesantren Kyai Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan Madura Jawa Timur Indonesia yang didirikan oleh KH. Kholil Khalil Bangkalan yang lebih dikenal dengan sebutan Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan. Pondok Pesantren ini didirikan pada 1861 Kholil mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan. Setelah putrinya, Siti Khatimah, dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Muhammad Thaha atau lebih dikenal dengan sapaan Kyai Muntaha, Pesantren di desa Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya Kholil sendiri, pada tahun 1861 M mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota sekitar 200 meter sebelah barat alun-alun Kota Kabupaten Bangkalan. Letak pesantren yang baru itu, hanya selang 1KM dari pesantren lama dan desa kelahirannya. Pesantren yang terakhir ini kemudian dikenal sebagai Pesantren Syaikhona pesantren di Kademangan inilah KH. Kholil bertolak menyebarkan Islam di Madura sampai Jawa. Pada mulanya beliau membina agama Islam di sekitar Bangkalan. Baru setelah dirasa cukup baik, mulailah beliau merambah ke pelosok-pelosok yang jauh, hingga menjangkau seluruh Kholil bangkalan madura sangat di segani oleh para kyai pada zamannya dan sangat alim. Beliau dilahirkan pada 11 Jumadil akhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 Masihi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Syaikhona Kholil menjadi ulama besar, karisma dan namanya sangat dihormati di seluruh kalangan masyarakat Islam, khususnya kaum berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langsung oleh ayah Beliau menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kyai Kholil belajar kepada Kyai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok Pesantren belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 KM dari Keboncandi. Kyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya. Sewaktu menjadi Santri KH Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik Tata Bahasa Arab. disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al- Qur’an. Kyai Kholil mampu membaca al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah tujuh cara membaca al-Quran.Pada 1276 Hijrah/1859 Masehi, KH. Muhammad Khalil Belajar di Mekah. Di Mekah KH. Muhammad Khalil al-Maduri belajar dengan Syeikh Nawawi al-Bantani Guru Ulama Indonesia dari Banten. Di antara gurunya di Mekah ialahSyeikh Utsman bin Hasan ad- DimyathiSaiyid Ahmad bin Zaini DahlanSyeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-MakkiSyeikh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani iBeberapa sanad hadis yang asal muasal diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi Bima, Sumbawa. KH Muhammad Kholil Sewaktu Belajar di Mekkah Seangkatan dengan KH Hasym Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Muhammad Dahlan namum Ulama-ulama Dahulu punya kebiasaan memanggil guru sesama rekannya dan KH Muhammad Kholil yang Dituakan dan dimuliakan diantara Pesantren Syaikhona Kholil benar-benar menjadi suluh bagi warga sekitar. Selama Ramadan, yang belajar di sana adalah santri luar yang sengaja mondok. Mereka ikut kajian pondok pesantren. Sebab, santri asli memang diliburkan selama para santri beragam mulai anak-anak muda hingga lanjut usia lansia. Semuanya khusyuk menyimak penjelasan sang kyai. Itu adalah potret semangat santri dalam menimba ilmu. Tradisi yang turun-temurun tetap yang dipraktikkan Syaikhona Kholil. Dijalankan secara turun-temurun hingga generasi saat ini. Bahwa seorang santri harus menjaga adab ke Kyai atau guru. Sebab, adab adalah bagian dari karakter santri. “Ilmu bisa digali lewat buku. Tetapi, adab adalah soal karakter’’.Adab tersebut juga pernah dicontohkan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari saat mengabdi ke Syaikhona Kholil. Meski pernah sama-sama nyantri di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, KH Hasyim Asy’ari tetap patuh ke Syaikhona Kholil. “Beliau adalah sokoguru bagi sejumlah tokoh besar di Pulau Pesantren Salafiyah Syaikhona Mohammad Kholil I Bangkalan ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang di dalam pandangan sosiologi Ritzer masuk pada kuadran keempat yaitu mikro-subyektif. Berdasarkan data penelitian yang ditemukan. Pesantren ini menyelenggarakan pendidikan agama Islam ke dalam dua program pendidikan dengan tujuan untuk membentuk santri yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq al program tersebut ialah ma’hadiyah dan madrasiyah. Dalam kedua program pendidikan ini buku rujukan pembelajaran hampir semuanya menggunakan kitab kuning, kecuali mata pelajaran Aswaja Ahlussunnah Wal Jamaah, yang dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran al-Qur’an dan al-Hadist, fiqh, tauhid, akhlaq, bahasa Arab dan sejarah memperoleh barokah ini santri harus patuh kepada ajaran agama Islam yang diwujudkan menjadi ketaatan kepada nabi Muhammad, sebagai pesuruh Allah, kemudian, kepada sahabat dan para pengikutnya, yaitu ulama orang ahli agama; bisa disebut kiyai, tuan guru dan sebagainya. Ketundukan pada ulama ditunjukkan dengan ketundukan pada peraturan pesantren dan cinta kepada kyai ulama yang dipercaya memiliki karomah. Wujud daripada cinta dan tunduk kepada ulama juga diwujudkan si belajar santri dalam kehidupan keseharian di pesantren dengan tirakat yaitu menahan lapar dan amarah serta hidup prihatin selama berada di Pondok Pesantren Syaikhona KholilKH. KhalilKH. Abdul Fattah bin Nyai Aminah binti Nyai Mutmainnah binti Imron bin KhalilKH. Fakhrur Rozi bin Nyai Romlah binti Imron bin KhalilKH. Abdullah Sahal bin Romlah binti Imron bin Fakhrillah Sahal bin Abdullah pelakasanaan pembelajaran agama Islam, di pesantren ini tidak dikenal dengan adanya dokumen kurikulum sebagaimana pendidikan formal lainnya di Indonesia, juga tidak dikenal adanya sistem evaluasi belajar dan kenaikan kelas oleh guru atau pengasuh. Penilaian hasil belajar dan kenaikan kelas ditentukan sendiri oleh santri dengan melakukan evaluasi sendiri apakah dia mampu membaca dan memahami kitab-kitab yang dipelajari atau stategi bandongan dan sorogan dilakukan dengan kiyai atau ustadz sebagai pemberi informasi utama dan tanpa adanya tanya jawab dan interaktif. Sedangkan pembahasan hasil pembelajaran dari sorogan dan bandongan di lakukan santri dengan strategi lain yaitu musyawarah, muhawarah dan muhadloroh. Dimana kegiatan tersebut dilakukan sesama santri dengan dipandu oleh ustadz atau santri senior, yang diadakan di musholla atau seramb-serambi tersebut memperlihatkan bahwa pesantren ini merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi pada pembentukan santri yang memiliki kemampuan ilmu agama dan mampu mengejawantahkan ilmunya ke dalam bentuk perbuatan sehingga dapat menjadi Muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq al karimah bermoral baik.SumberPesantren Syaichona Cholil, Pesantren Kyai Kholil Bangkalan Madura, Kholil Bangkalan,
t1xD6.
  • ty93kr47i0.pages.dev/490
  • ty93kr47i0.pages.dev/258
  • ty93kr47i0.pages.dev/57
  • ty93kr47i0.pages.dev/378
  • ty93kr47i0.pages.dev/244
  • ty93kr47i0.pages.dev/197
  • ty93kr47i0.pages.dev/314
  • ty93kr47i0.pages.dev/144
  • pesan kyai kholil bangkalan